oleh

Empat Tahun Kepemimpinan KBS-Ace. Dari Sampah Plastik, Desa Adat sampai Pura Besakih

Oleh Made Nariana

BULAN September ini, empat tahun lalu,  usia kepemimpinan Koster Bali Satu (KBS) bersama  Tjokorde Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) berusia empat tahun. Apa yang dilakukan empat tahun untuk masyarakat Bali, perlu disimak masyarakat. Banyak yang baik, tetapi pasti juga tetap  ada pihak yang belum puas. Itulah politik!

Saya lebih senang menyebut KBS-Ace terhadap Gubernur Bali Wayan Koster bersama pendampingnya Tjok Ace. Kenapa? Dua tiga tahun sebelum Wayan Koster menjadi Gubernur, rumah saya sudah di  Baha Mengwi, menjadi Posko relawan pasangan Giri Prasta-Suiasa (Giri-Sui). Selanjutnya menjelma menjadi Posko relawan KBS-Ace.

Kedua relawan itu dipimpin Ketua Wayan Tirta dengan Sekretaris Pande Krisnayana. Saya bersama Ketut Golak (almarhum) menjadi Penasehat dan Pembina. Kedua pasangan tokoh Bali, Nyoman Giri Prasta, Ketut Suiasa, (Bupati dan Wakil Bupati Badung) dan Wayan Koster dan Cok Ace (Gubernur dan Wakil Gubernur Bali) menjadi saksi hidup keberadaan relawan tersebut.

Kali ini saya ingin menulis, bagaimana program KBS –Ace selama empat tahun terakhir. Tentu hanya garis besarnya, sebab terbatasnya halaman suratkabar.

Dua tahun pertama, KBS-Ace konsentrasi membuat regulasi berupa Perda dan Pergub. Tercatat ada 40 Perda dan Pergub dihasilkan sebagai landasan hukum bekerja membangun Bali. Di balik gempuran Covid-19 yang melanda dunia, Bali ikut terpuruk lebih dari dua tahun sejak 2019.

Di tengah kondisi memprihatinkan itulah KBS-Ace melaksanakan program pembangunan Bali. Kondisi Covid dikendalikan dengan baik, di balik banyak yang membully di media sosial. Tetapi Bali dapat penghargaan pusat dalam menangani Covid tersebut.

Lewat regulasi di bidang itu, sampah plastik satu kali pakai dapat dikendalikan. Memang belum tuntas, tetapi paling tidak mindset masyarakat Bali sudah berubah terhadap bahaya sampah plastik.

Gubernur  Bali juga mengharuskan masyarakat mulai menghargai hasil kerajinan Bali. Pakaian endek dan pakaian adat Bali  wajib dipakai untuk kerja setiap Kamis.  UKM bergairah menyambut program tersebut.

Program berikutnya menata, membina dan mengembangkan keberadaan Desa Adat Bali, yang belum pernah ditangani sejak berabad-abad. Kini Desa adat menjadi eksis dengan kaarifan lokal Bali. Mereka langsung dibina satu Dinas (OPD/Organisasi Perangkat Daerah). Bendesa Adat dengan perangkatnya diberikan honor, sekalipun jumlahnya sangat kecil dibandingkan Kepala Desa Dinas. Manusia Bali, alam Bali dan dan Budaya Bali termasuk agamanya mendapat perhatian khusus dalam sejumlah program.

KBS bersama aparatnya juga membangun pelabuhan segitiga emas Sanur-Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Ini sebuah proyek penting, sehingga masyarakat yang kini semakin banyak ke Nusa Penida tidak berbasah – basah di laut sebelum naik kapal penyebrangan. Nusa Penida  menjadi obyek idaman bagi turis mancanegara.

Satu hal yang membanggakan, KBS dan Ace mampu meyakinkan pusat dan DPRD Bali, membangun tempat parkir di kawasan Pura Besakih, sebagai hulu Bali secara niskala. Jika kelak penataan parkir dan lingkungan Pura Besakih tuntas akhir tahun 2022, maka pemedek yang sering membludak di saat Karya Piodalan di sana, pasti akan lebih tertib. Pedagang yang sering dikeluhkan juga akan mendapat tempat khusus sehingga Umat Hindu lebih tertib melakukan persembahyangan.

Tidak kurang dari Bendesa Adat Besakih mengakui, baru kali ini masyarakatnya mendapat proyek besar yang tujuannya cukup mulia. Mereka kagum, sebab Besakih ditata dengan baik.

Pembangunan dan penataan Pura Besakih  diimbangi dengan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung. PKB tersebut kini sudah mulai dikerjakan. Pembangunan di hulu (Besakih) dan di hilir (PKB) tentu memiliki arti khusus baik secara niskala dan skala.

Gubernur Koster tidak berhenti di sana. Mereka juga menuntaskan proyek shortcut Mengwi-Singaraja, sehingga perjalanan Denpasar-Singaraja lebih cepat. Berbicara soal transportasi, pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi mulai dikerjakan. Groundbreaking sudah dilakukan Menteri PUPR tanggal 10 September 2022 di Pekutatan Jembrana. Jalan Tol ini sangat istimewa sebab ada akses bagi pengguna sepeda motor dan penggemar sepeda gayung.

Menjelang gelaran G-20 di Bali, Pemprov Bali bersama pemerintah Pusat juga menata Bandara Ngurah Rai, membangun pelabuhan Benoa menjadi pelabuhan internasional dan menjaga Bali supaya tetap aman.

Satu hal yang menarik,  di masa mendatang wilayah Bali Utara, Barat dan Timur tidak akan mengalami blankspot (kesulitan) menonton televisi sebab Gubernur Koster sudah membangunkan Tower Turyapada  yang sangat modern di Desa Pegayaman Buleleng. Daerah itu akan menjadi obyek turis yang baru!

Apa yang saya tulis menyangkut sejumlah proyek pembangunan ini  merupakan peninggalan monumental bagi Bali ke depan.

Perjalanan kepemimpinan KBS-Ace selama empat tahun ini, bukannya tanpa hambatan. Banyak hambatan. Banyak juga celaan, bully, mungkin juga fitnah. Tetapi KBS-Ace tetap bekerja di balik kondisi sulit akibat dampak Covid-19 yang melanda Indonesia dan Bali.

Saya percaya, siapa pun kalau mau kerja keras, jujur dan lascarya – pasti akan mendapat imbalan sepadan dari para leluhur. Astungkara!  (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed