Menu

Mode Gelap
Hanya Gelandangan Politik yang Tidak Puas dengan keberhasilan Gubernur Koster Membangun Bali. Kembali Gelar Pasar Rakyat di Bangli, Ny. Putri Koster Puji Pemkab Bangli Berhasil Kembangkan Jeruk Varietas Baru RGL Gelar Lawatan Ke Praha, Wagub Cok Ace Bahas Potensi Kerjasama Antara Bali dan Ceko Tutup Pameran Bali Bangkit Ke-6, Ny. Putri Koster Himbau UMKM Tidak Nakal Mengkopi Motif Tenun Gringsing Riset dan Inovasi Untuk Indonesia Raya

Opini · 28 Apr 2023 09:59 WITA ·

Ganjar Pranowo Menjadi Media Darling Indonesia


 Ganjar Pranowo Menjadi Media Darling Indonesia Perbesar

Oleh : Made Nariana

BEGITU Ganjar Pranowo (kini Gubernur Jawa Tengah) di umumkan sebagai Calon Presiden 2024 oleh ibu Megawati Soekarno Putri, tokoh yang sebelumnya kontraversial itu —  menjadi “media darling”. Pengertian umum media darling, adalah sosok yang disukai media massa.

Ibu Megawati Soekarno Putri mengumumkan Ganjar Pranowo (GP) sebagai calon presiden dalam timing yang tepat. Jumat Paing wuku Ugu, bertepatan dengan Hari Kartini 21 April 2023 di Istana Batutulis Bogor Jawa Barat. Hari itu, juga berakhirnya Umat Muslim berpuasa, untuk menyambut datangnya hari suci Lebaran.

Konstelasi politik langsung berubah begitu GP dinobatkan sebagai capres 2024. Di mana-mana masyarakat semarak menyambut kehadiran GP yang dikenal berpenampilan sederhana. Sejumlah artis langsung membuat lagu kampanye dengan versi masing-masing. Lagu “Ganjar Siji Ganjar  Kabeh” (Ganjar satu Ganjar Semua) langsung bergema di rumah seniman Butet Kartaredjasa di Bantul Jogyakarta. Gerakan Banteng merajela di sejumlah kota di Jawa, Jakarta, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTT termasuk di Papua. Hal serupa juga terjadi di kalangan relawan Ganjar.

Saya mengamati hal tersebut tidak terjadi saat Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI —  diumumkan sebagai capres oleh Nasdem beberapa bulan lalu. Tidak terjadi eoforia politik  seperti apa yang terjadi begitu GP diumumkan sebagai capres.

Ada juga lagu “Teng ji teng Beh” (banteng satu banteng semua) yang dinyanyikan sejumlah seniman. Belum saya dengar lagu Bali yang menyambut GP sebagai capres Indonesia 2024.

Media sosial sejak 21 April langsung semarak dengan berita soal GP. Begitu juga sejumlah televisi  menyajikan “Breaking News” dengan berbagai ulasan dan pernyataan sejumlah pengamat – termasuki bagaimana kehidupan pribadi GP di masa lalu, sampai ia kini menjadi harapan banyak orang menjadi Presiden RI pasca Jokowi.

Elektabilitas GP yang sempat turun karena pernyataan soal Israel tidak boleh ikut Piala Dunia U20 di Indonesia, langsung melejit naik lagi menjadi nomor satu. GP pernah di bawah Prabowo. Tetapi sekarang kembali naik. Berdasarkan survei litbang Kompas, GP lebih banyak didukung kaum muda dan ibu-ibu.

Berikutnya pemberitaan di media sosial, banyak diperbicangkan siapa cawapres (calon wakil presiden GP). Jokowi menyebut banyak. Ada Erik Thohir, Machfud MD, Sandiaga Uno, Cak Imin dan lain-lain. Bahkan boleh jadi juga Prabowo Subianto, yang kini menjadi capres Gerindra.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), PSI dan Hanura sudah bergabung ke PDI-P dan mendukung GP. Diperkirakan koalisi besar seperti Gerindra, PKB, Golkar, PAN dan PPP juga akan bersatu melawan Koalisi Perubahan yang dimotori Partai Demokrat, PKS dan Nasdem dengan capres Anies.

Bagaimana akhir dari cerita koalisi – koalisi pendukung capres ini kelihatan masih cair. Pengamat politik memberikan berbagai persepsi. Banyak solusi dan banyak teori. Saya perkirakan, sejumlah Ketua Umum Parpol pun kebingungan  mau kemana. Namun yang pasti pasti semua ingin memihak kepada capres yang akan menang pilres di 2024.

Jangan lupa isu politik identitas  pun semakin kencang di media sosial. Banyak kalangan masyarakat kecil juga memberikan komentar yang macam-macam, saling serang menyerang. Kini tinggal masyarakat yang makin kritis memutuskan tokoh mana yang dipercaya menjaga negeri ini supaya utuh, bersatu padu dalam bingkai NKRI, menghargai kebhinekaan dan menghargai toleransi beragama termasuk menjaga dasar negara Pancasila.

Perbedaan adalah rahmat yang harus disyukuri dan sebuah keniscayaan yang luar biasa sebagai bangsa besar di dunia.

Jokowi kini dihargai sejumlah pemimpin negara besar di dunia. Jangan penghargaan itu sampai sia-sia, kalau kita salah memilih pemimpin pegantinya kelak.(*)

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bendesa Adat Peras Investor, Kok Bisa?

4 Mei 2024 - 09:49 WITA

Bijaksana dalam Menggunakan Medsos

25 April 2024 - 08:09 WITA

Made Nariana

Menuju Indonesia Emas, Apa Mungkin?

24 April 2024 - 13:49 WITA

Made Nariana

Banteng, Semakin Digenjet Biasanya Semakin Melejit

1 November 2023 - 09:20 WITA

Usaha Membusukkan Keluarga Presiden Jokowi

11 Oktober 2023 - 08:58 WITA

Perkuat Visi Misi Gubernur

7 Oktober 2023 - 10:33 WITA

Trending di News