oleh

Industri Pariwisata Bali dan Petani  Kita

Oleh : Made Nariana

BANYAK harapan masyarakat Bali, bahwa industri Pariwisata Bali, supaya ikut membangun Bali. Ikut membangun Bali, artinya selain membayar pajak, juga ikut memiliki tanggungjawab membangun manusia Bali, membangun alam Bali dan membangun budaya dan agama masyarakat Bali.

Jika hal ini dilakukan secara bertanggungjawab, niscaya pariwisata Bali akan tetap berlangsung sepanjang masa. Industri yang bergerak di sektor pariwisata pun akan tetap hidup sebab pariwisata Bali adalah pariwisata budaya. Budaya sangat luas cakupannya, tidak perlu saya jelaskan di sini.

Siapa pun —  dan dari mana pun investor yang hidup di Bali, wajib memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan terhadap lingkungan mereka. Gubernur Bali Wayan Koster, sudah berulangkali mengajak kalangan industri tersebut berpartisipasi membantu petani, nelayan, peternak dan masyarakat Bali yang ikut menunjang budaya Bali. Perhatian terhadap keberlangsungan desa adat yang menjadi benteng terakhir budaya Bali sudah dilakukan.

Dalam berbagai pertemuan dengan kalangan manajemen hotel, Gubernur Koster juga banyak meminta perhatian, bahwa hidup mereka  tergantung kekayaan alam, budaya, adat dan agama Hindu di Bali.

Dalam suatu peremuan di Jaya Sabha belum lama ini dengan kalangan Manajemen Hotel kawasan Nusa Dua, Gubernur minta pihak hotel membantu petani, nelayan, perajin di Bali. Dengan demikian, mereka juga merasakan pulihnya pariwisata pasca  pandemi Covid-19, serta merasakan manfaat adanya pertemuan Presidensi G-20.

Harapan itu artinya apa? Perkembangan pariwisata yang kini kembali hidup setelah pandemi Covid, hendaknya ikut dirasakan secara nyata oleh masyarakat di bawah. Lebih-lebih adanya hajatan dunia G-20 di Bali. Dengan media sosial yang begitu marak di bawah, masyarakat tahu akan ada pertemuan sejumlah pimpinan dunia di Bali. Apa dampaknya bagi masyarakat Bali? Pasti banyak. Inilah yang perlu dirasakan masyarakat, dengan bantuan pemerintah, khususnya kalangan industri pariwisata.

Janji bahwa kalangan manajemen hotel akan menggunakan arak Bali sebagai “welcome drink” (minuman selamat datang) bagi tamunya, salah satu contoh yang patut dihargai.

Pemerintah Bali melalui Gubernur Wayan Koster, kita harapkan tetap melakukan intervensi yang lebih nyata kepada siapa pun investor yang berusaha di Bali. Manajemen hotel misalnya, supaya benar-benar memanfaatkan sayur-mayur, daging, telor, bumbu-bumbuan, buah-buahan, dan berbagai macam hasil pertanian petani Bali. Termasuk produksi kerajinan Bali bagi kepentingan wisatawan.

Jika hal itu dilakukan lebih nyata, saya niscaya masyarakat Bali khususnya para petani, nelayan dan perajin memberikan apresiasi yang tinggi. Mereka benar-benar merasakan langsung apa yang diperlukan untuk membangun Bali dari sektor pariwisata.

Kenyataan, memang Bali belum dapat memenuhi sendiri kebutuhannya. Banyak hal masih didatangkan dari Jawa atau Lombok. Tidak soal, tetapi kita harus memanfaatkan lebih dahulu apa yang ada di Bali. Kekurangannya baru dicari dari luar Bali.

Sebaliknya petani, perajin dan nelayan juga perlu mendapat perhatian, supaya mereka mampu berproduksi sesuai kualitas yang diperlukan dunia pariwisata. Mereka perlu pendampingan yang nyata, tidak hanya dengan intruksi dan harapan-harapan saja.

Intervensi nyata memang diperlukan dari pemerintah. Dan Gubernur Koster sudah memperlihatkan perhatian tersebut demi kepentingan rakyatnya sendiri.

Saya berharap, kita bangun Bali bersama. Jangan membangun di Bali tetapi keuntungannya dilarikan ke luar Bali, dan rakyat Bali dibiarkan selalu prihatin. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed