oleh

Masuk Negeri  Sendiri Malahan Lebih Ruwet

Oleh : Made Nariana

SEORANG anak perempuan saya, Minggu lalu selama 10 hari melakukan perjalanan wisata ke Turki. Bersama beberapa temannya.  Ia sudah memesan tiket penerbangan setahun lalu. Dapat lebih murah. Kenapa Turki?

Memang Turki sudah terbuka untuk umum. Banyak turis sudah pergi ke sana.  Di beberapa hotel, menurut cerita anak saya, ia banyak menemui  pegawai massage hotel perempuan Bali.

“Saya dari Bali mbak. Kapan tiba di Turki?”, tanya sejumlah PMI asal Bali. Turki 90 persen penduduknya  muslim. Tetapi memiliki sikap modern. Penduduknya ramah, lakinya cakep dan perempuannya cantik-cantik.  Semua turis dapat menikmati kecantikan perempuan Turki, karena mereka jarang menggunakan jilbab dan pakaian penutup badan seluruh tubuh. Kehidupannya seperti masyarakat Eropah.

Anjing dan kucing juga berkeliaran di jalanan. Bahkan gemuk-gemuk, karena mendapat jatah makan dari negara. Malahan ada anjing masuk tempat ibadah, tidak diusir. Binatang itu dapat menikmati hidup dengan baik, di tengah masyarakat.

Saya tidak akan banyak cerita selama anak saya di Turki. Tetapi cerita menarik, salah satunya masuk Turki di zaman covid ini tidak sesulit seperti orang Indonesia masuk negerinya sendiri.

Saat balik ke Indonesia terlalu ruwet bagi masyarakat. Keruwetan itu sering berlebihan. Banyak pertanyaan petugas dari paspor sampai bebas vaksin. Malahan ada yang tanya oleh-oleh dari Turki. “Nggak bawa coklat mbak?”, tanya mereka. Pertanyaan itu, memang dari oknum – tetapi kesannya kurang baik.

Setiba di Jakarta dalam perjalanan sehari penuh, ia kena karantina dua malam. Mereka yang sehat setelah dua malam boleh melanjutkan pulang ke Bali. Tetapi yang positif harus kembali karantina di tempat lain.

Kebetulan anak saya di karantina di sebuah wisma, beralamat di Jakarta Timur, dengan makanan seadanya. Temannya konon positif, langsung dipindahkan ke penampungan di kompleks Senayan.

Saat bebas dan ke Bandara, diharuskan  menyewa mobil yang disiapkan di tempat karantina seharga Rp200.000 per orang. Tidak boleh sewa grab atau taksi, yang tentu lebih murah. Seperti dipakai “mencari sesuatu” di tempat karantina. Versi saya dipakai obyeklah……..

Oke, saya tidak mau memperpanjang soal birokrasi di Indonesia untuk mengurus perjalanan dari luar negeri masuk ke negeri sendiri.

Saya mau mengalih ke persoalan lain. Ketika saya menjemput anak saya di Bandara Ngurah Rai, saya melihat suasana Bandara seperti normal. Banyak turis yang turun dari pesawat rute Jakarta-Denpasar. Seperti kondisi tidak ada covid.

Menurut anak saya, pesawat Citilink yang ia tumpangi juga penuh, dengan harga tiket Jakarta – Denpasar Rp800.000.- satu kali jalan. Ini sangat mahal, dibandingkan kondisi rutin sebelumnya.

Saya gembira melihat bandara Ngurah Rai mulai hidup. Banyak tamu asing maupun domestik turun di Bandara kesayangan kita bersama itu, sejak 7 Maret 2022.

Saat menunggu anak di dekat sebuah restoran, saya bertemu teman lama yang sebaya dengan saya. Ia menjadi sopir dengan mobil tua.

“Lho kok masih kerja nyopir? Masih kuat?….”

“ Ya Pak, daripada diam di rumah,” kata teman saya itu yang sebelumnya bekerja di hotel.

Menurutnya, tamu asing atau tamu domestik, terutama perempuan muda yang sendirian,  lebih senang memilih sopir tua daripada sopir muda. Mengapa? Lebih aman di jalan. Sopir tua tidak mungkin “neko-neko” atau main-main. Mau ke hotel mana pastilah diantar sesuai tujuan.

Betul juga, pikir saya.

Sopir,  teman saya itu juga mengatakan,  tamu mulai berdatangan ke Bali sesuatu pertanda pariwisata Bali hidup kembali setelah dua tahun macet total.

“Saya berterima kasih kepada Gubernur Bali dan pemerintah pusat, yang telah memberikan kelonggaran. Tidak ada lagi karantina termasuk bebas antigen atau PCR jika naik pesawat,” kata sahabat lama saya itu. Hidupnya mulai bergairah. Astungkara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed