Menu

Mode Gelap
Hanya Gelandangan Politik yang Tidak Puas dengan keberhasilan Gubernur Koster Membangun Bali. Kembali Gelar Pasar Rakyat di Bangli, Ny. Putri Koster Puji Pemkab Bangli Berhasil Kembangkan Jeruk Varietas Baru RGL Gelar Lawatan Ke Praha, Wagub Cok Ace Bahas Potensi Kerjasama Antara Bali dan Ceko Tutup Pameran Bali Bangkit Ke-6, Ny. Putri Koster Himbau UMKM Tidak Nakal Mengkopi Motif Tenun Gringsing Riset dan Inovasi Untuk Indonesia Raya

Opini · 31 Mar 2023 08:49 WITA ·

Olahraga dan Politik


 Made Nariana Perbesar

Made Nariana

oleh : Made Nariana

BANYAK yang marah, paling tidak jengkel dan ngedumel, dengan keputusan FIFA membatalkan Piala Dunia U20 tidak jadi dilangungkan di Bali. Media sosial (medsos) marak dengan cacian. Temen-teman saya sendiri juga banyak yang kecewa menyalahkan pihak ini dan itu.

Tetapi, saya selalu berpikiran optimis. Saya percaya dengan kebenaran Tuhan. Manusia dapat merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Kini, Piala Dunia batal di tanah air.  Saya dan semua mencintai sepakbola.  Konon 150 juta rakyat dirugikan dengan pembatalan Piala Dunia di Indonesia.

Makanya, kalau ada orang mengatakan, politik harus dipisahkan dengan olahraga – itu hal yang mustahil. Kita semua main politik. FIFA sendiri juga berpolitik. Rusia langsung di banned (tidak boleh main) di Paiala Dunia Qatar karena menyerang negara tetangga Ukraina. FIFA juga berstandar ganda. Kenapa hal yang sama tidak diberlakukan bagi Israel yang dikenal sebagai zionis di dunia? Ini pertanyaan besar bagi Indonesia sejak zaman Bung Karno sebagai Presiden di negeri ini.

Gelombang penolakan terhadap tim Israel untuk ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia cukup kencang. Tidak saja dari Majelis Umat Islam (MUI), PKS, PDI Perjuangan dan kelompok lain. Gelombang tersebut tidak saja terjadi di tanah air. Bahkan sebuah kantor berita mengatakan, banyak negara Asia tidak setuju, jika Israel ikut dalam perhelatan di Piala Dunia tersebut.

Indonesia memihak Palestina dalam perseteruan dengan Israel. Itu persoalan politik. Mereka yang pro mengatakan, olahraga jangan dikaitkan-kaitkan dengan politik. Bahkan Presiden Jokowi sendiri, minta Piala Dunia yang direncanakan dilakukan di Bali dan Jawa tersebut, jangan di bawa-bawa ke politik.

Betul!. Dalam teori boleh saja politik dan olahraga  dipisahkan. Bagaimana dalam pelaksanaan di lapangan? Olahraga sering dipolitiki banyak orang. Bukan saja di tataran atas. Tetapi juga tataran bawah.

Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, kata teori klasik Aristoteles. Dalam prakteknya  politik, sering dikaitkan dengan sebuah usaha warga negara untuk merebut kekuasaan. Bahkan politik sering dikonotasikan sebuah usaha kejahatan untuk kepentingan sesuatu golongan. Tentu  dilakukan para politisinya.

Apakah politik, boleh diterapkan dalam dunia olahraga? Kalau pengertiannya sebuah usaha demi kebaikan bersama kenapa tidak? Organisasi yang memiliki otoritas dalam dunia olahraga, sering menggunakan politik untuk mengalahkan lawannya. Politik tidak memainkan cabang olahraga tertentu, sering dipraktekkan negara tertentu, jika mereka sebagai tuan rumah kejuaraan.

Saya sendiri pernah menjadi korban politik dalam urusan olahraga. Contoh lebih kongkrit, salah satu cabor anggota KONI Bali saat melakukan pemilihan pengurus juga menjadi korban politik dari politisi tertentu. Dua figur satu A dikenal dengan warna merah melawan B yang dikenal warna kuning. Dalam voting kedudukan 7 lawan 2 untuk kemenangan A. Tapi hasil itu  tidak mau diakui pimpinan pusatnya, sebab jagonya yang warna kuning kalah telak. Pengurus cabor itu dibekukan, dan dibentuk pengurus sementara (caretaker).

Ujung akhirnya, karena didiamkan berlarut-larut, demi kepentingan atlet — akhirnya KONI Bali menyerah. Padahal kedaulatan ada di tangan pemilik suara. Pengurus Pusat membuat musyawarah baru, dengan memilih calon ketiga yang kebetulan warnanya kuning. Pasalnya, karena pengurus cabor itu di pusat dikuasai warna kuning. Apakah ini bukannya olahraga dikaitkan-kaitkan dengan politik?  Hal ini politik yang jahat. Sangat jelas dan transparan sekali politiknya!

Intinya, masalah apa pun dapat dikaitkan dengan politik. Termasuk urusan keluarga di rumah sering dipolitiki suami atau istri sendiri, dengan dalih demi kepentingan tertentu.

Kembali ke persoalan ditolaknya Israel dalam Piala Dunia U-20, pastilah terkait dengan politik. Sejarah mencatat, Indonesia di zaman dulu pernah menolak Israrel ikut dalam kejuaraan tertentu di tanah air. Sejarah itu ingin diulang generasi sekarang, karena menghargai kebijakan pemimpinnya di masa lampau.

Apakah zaman sekarang masih relevan atau tidak,  masalah itu persoalan lain. Bagi sejumlah negara tertentu termasuk Indonesia, Israel dianggap negara zionis. Tidak mengakui kemerdekaan Palestina.

Apalagi,  konon ada laporan intelijen Israel sendiri bahwa kesebelasan Israel tidak akan aman berada di Indonesia. FIFA sendiri membatalkan kejuaraan dunia itu sudah tahu sebelumnya. Sehingga pembatalan itu didasarkan atas peristiwa Kanjuruhan di Malang tahun 2022. Tidak ada atas dasar penolakan dua gubernur dan sejumlah komponen partai.

Apalagi kalau sampai Bali terganggu karena masalah Israel itu,  tentu akan merusak dunia pariwisata Bali yang baru ramai pasca mandeg selama Covid19.

Bali daerah spiritual tinggi yang memiliki semangat kemanusiaan begitu kental. Saya menghargai kekecewaan banyak orang. Tetapi ayo kita move on, demi masa depan Bali.

Saya ingin mengatakan, bahwa dunia apa pun dapat dikaitkan ke politik termasuk dunia olahraga!  Pergulatan seperti itu pasti selalu akan terjadi. Terlepas dari sudut mana kita melihatnya. (*)

Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bendesa Adat Peras Investor, Kok Bisa?

4 Mei 2024 - 09:49 WITA

Bijaksana dalam Menggunakan Medsos

25 April 2024 - 08:09 WITA

Made Nariana

Menuju Indonesia Emas, Apa Mungkin?

24 April 2024 - 13:49 WITA

Made Nariana

Banteng, Semakin Digenjet Biasanya Semakin Melejit

1 November 2023 - 09:20 WITA

Usaha Membusukkan Keluarga Presiden Jokowi

11 Oktober 2023 - 08:58 WITA

Perkuat Visi Misi Gubernur

7 Oktober 2023 - 10:33 WITA

Trending di News