oleh

Program Ganjil-Genap di Obyek Wisata Bali ?

oleh : Made Nariana

DIRENCANAKAN, mulai 25 September 2021, Bali menerapkan program kendaraan bermotor ganjil-genap di obyek wisata. Khususnya Sanur dan Kuta. Kalau tanggal ganjil, kendaraan yang boleh masuk ke sana nomor polisi ganjil, dan jika tanggalnya genap, yang boleh lewat adalah nomor polisi (di Bali DK…) yang genap juga.

Untuk kondisi menghadapi wabah covid, di mana masyarakat antara lain harus tetap jaga jarak, pakai masker, tidak boleh kumpul dan menggunakan sanitizer – program tersebut dapat dipahami, Maksudnya supaya hunian obyek itu jangan terlalu meluber, menyebabkan wabah covid terus menular, yang akhirnya merugikan kita semua.

Tetapi jika kelak kondisi kembali normal,  di mana wabah dapat terkendali dengan mapan, rasanya program ganjil-genap kurang pas dilaksanakan di Bali, sebagai obyek wisata.

Kelak, kalau Bali kembali normal – wisatawan yang datang bukan saja domestik tetapi juga internasional. Banyak turis dalam negeri membawa mobil sendiri. Bagaimana setelah di Bali mereka terjebak dengan aturan ganjil-genap, sementara waktu mereka terbatas berlibur? Pasti mereka kecewa dan terjebak di sejumlah obyek turis itu. Mau masuk tidak boleh, tidak masuk ke sana – waktu terbatas. Tentu kasihan, mereka tidak dapat menikmati apa yang sudah diprogram untuk berlibur ke Bali.

Selain itu, kondisi lalu lintas macet di Bali sangat fluktuatif. Artinya tidak setiap hari macet. Obyek pantai Sanur atau Kuta secara umum misalnya, — dalam kondisi normal, paling – paling macet akhir pekan saja. Setelah itu normal kembali.

Solusinya apa? Kalau ingin supaya obyek itu tetap terjaga sehingga tidak kelebihan pengunjung guna menghindari wabah covid, sebaiknya dimanfaatkan petugas satpol PP, pecalang dan polisi untuk melakukan buka-tutup. Kalau dirasakan sudah melebihi dari ketentuan, tutup sementara. Tamu/turis yang datang dialihkan sementara, kemudian buka kembali kalau sudah mulai senggang.

Sebaiknya, pemerintah memberikan reward atau penghargaan kepada daerah/obyek wisata yang mampu mengendalikan daerahnya mengatasi merebaknya wabah covid19. Penghargaan tersebut akan memberikan semangat, tanpa melakukan program ganjil-genap.

Menurunnya level penyebaran covid di Bali, memberikan harapan pariwisata akan semarak lagi. Apalagi Bandara Ngurah Rai dibuka untuk penerbangan internasional mulai bulan Oktober 2021.

Masyarakat saya amati, sangat gembira dan antusias menyambut era baru setelah sekian lama dicekam wabah global yang mematikan. Mereka yang membully dan mencemooh pemerintah  dalam mengatasi covid sebelumnya, juga mulai diam. Semoga mereka menyadari kekeliruannya!

Astungkara, kondisi segera normal. Dalam keadaan menyambut era baru Bali ini, jangan kembali dibuat ruwet dengan menerapkan program ganjil-genap seperti Jakarta.

Setuju, prokes covid harus tetap jalan. Jaga jarak, pakai masker, gunakan sanitizer, tidak banyak berkumpul dan seterusnya. Kendalikan turis masuk obyek wisata. Kurang pas kalau diberlakukan aturan ganjil-genap. Apalagi penduduk Bali hanya punya mobil baru satu saja. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed